Tepuk tangan meledak setiap kali seorang peserta selesai membacakan karyanya.
Rais menyeletuk, “Kalian udah kayak pujangga ya, tulisannya penuh kata-kata puitis.” Seketika kami tertawa.
Tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan kalimat itu. Kami yang hadir di ruang Kijang Hotel Ibis Style Bogor Raya pagi itu adalah orang-orang yang terbiasa berteriak. Teriak di depan kantor bupati, teriak di hadapan kepala dinas, teriak membela warga yang tanahnya dirampas. Selama ini kami merasa sudah cukup fasih: punya data, punya argumentasi, punya suara keras.
Ternyata kami tidak tahu cara bercerita.
***
Dadar gulung, keripik singkong balado, dan risol solo berjajar rapi di meja luar ruang pertemuan ketika kami berdatangan, Selasa pagi 3 Juni 2026. Lima belas peserta dari delapan wilayah: Bogor, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua Selatan. Staf HuMa dan mitra jaringan, semua terbiasa bekerja di lapangan.
Fahri dan Viriya dari Project Multatuli yang memandu. Keduanya wartawan sekaligus editor. Fahri membuka dengan mengaku: terlalu lama meng-edit tulisan orang lain di meja kerja membuatnya hanya tahu cerita-cerita dari tapak lewat rangkaian kata yang disetor kontributor. Hari ini ia ingin mendengarnya langsung dari sumbernya.
Sesi pertama: refleksi tulisan yang sudah dikirimkan peserta sebelum pelatihan. Satu per satu ditampilkan di layar proyektor. Bang Frans dari Papua membacakan tulisannya tentang Suku Korowai yang menanggung dampak tambang emas liar. Accung bercerita tentang metode belajar bersama warga Rancapinang yang ia anggap asyik. Saya sendiri menulis tentang dua perempuan di Desa Pundenrejo, Pati, yang hidup dengan luka kekerasan berulang.
Tulisan-tulisan itu berisi fakta yang benar. Tapi setelah Fahri dan Viriya memberi komentar, saya menyadari satu hal: kami menulis seperti sedang membuat laporan pengaduan. Tidak ada adegan. Tidak ada wajah. Tidak ada suara.
Atmosfer ruangan mulai berubah seiring sesi berjalan. Riuh diskusi mulai mengisi ruangan. Ketegangan dan kecanggungan yang tadinya menggelayut perlahan mencair menjadi antusiasme. Peserta yang awalnya malu-malu mulai melemparkan nada kritik yang dibungkus tawa. Setiap catatan dari peserta lain dan mentor jadi rajutan anak tangga untuk naik kelas.
Fahri menutup hari pertama dengan satu pesan: “Dalam menulis, karakter jadi penting. Tambahkan pengalaman personal dan adegan untuk memperkuat story dalam tulisan.”
Malam itu kami menulis ulang.

Hari kedua hasilnya berbeda. Sukirman dari Kalimantan Utara menjadi peserta pertama yang membacakan tulisannya. Para peserta menyimak, kemudian memberi masukan. Saya mulai merasakan perubahan dibanding tulisan hari pertama. Meski belum sehebat Andreas Harsono atau Chatib Basri, setidaknya para peserta mulai “bercerita” dengan tulisannya.
Kemeriahan kelas menjadi-jadi saat hasil tulisan semakin terasa puitis. Bang Frans, Accung, dan saya sontak dijuluki pujangga oleh peserta lain. Sok puitis meski kemampuan menulis masih tipis, begitulah kira-kira. Kami tak lagi canggung, mulai jujur menyampaikan pendapat.
Viriya mengisi sesi berikutnya dengan cara menjinakkan angka menjadi argumen: satu tulisan, satu pertanyaan utama. Ia memandu cara menelusuri data dari portal ESDM, mengolahnya di Excel, menelusuri profil perusahaan dari dokumen resmi. Pembelajaran sesi ini: mengubah data dingin menjadi kalimat argumentatif yang memikat. Kami belajar bahwa struktur opini yang kuat membutuhkan fondasi data yang valid agar tidak sekadar terdengar seperti keluh kesah.
Fahri mengisi sore dengan menulis feature. Jika opini adalah tentang ketajaman berpikir, maka feature adalah tentang kedalaman rasa. Di sesi ini, karya tulisan ditiupkan “jiwa”. “Ingat,” kata Fahri menutup sesi, “kita mewakili telinga, mata, hidung, rasa, dan perasaan pembaca. Suara ceritamu akan mendekatkan isu-isu yang jauh dari publik, lebih mudah diterima oleh orang lain.”
***
Hari terakhir adalah ujian sesungguhnya: menyusun outline dari studi kasus advokasi yang sedang berjalan.
“Bagi penulis, menulis tanpa menyusun outline membuat penulisnya bisa tersesat di tengah jalan dan akhirnya bingung mau ke mana,” kata Viriya membuka sesi.
Peserta dibagi empat kelompok. Jemari mulai menari di atas papan ketik. Saat presentasi, mentor dan peserta menghujani dengan pertanyaan kritis: “Kenapa tidak ada analisa hukumnya?” “Pembukanya terlalu biasa.” “Di mana letak klimaksnya?” Sebuah kerangka tulisan dibongkar, disusun ulang, diperbaiki bersama hingga alur logisnya benar-benar kokoh.
Seorang peserta berkeluh kesah: “Ternyata sulit ya, membuang data yang tidak perlu. Seringkali kita merasa semua harus dimasukkan karena sayang.”
“Itulah fungsinya outline,” jawab Viriya, “agar tulisan tetap fokus dan tidak melebar ke mana-mana.”
Menutup rangkaian tiga hari pelatihan, setiap peserta menyampaikan kesan secara bergiliran. Rais mendapat giliran terakhir.
“Ini pelatihan menulis pertama yang saya ikuti, sebelumnya belum pernah. Dan tidak sesuai dengan bayangan saya. Saya pikir pelatihannya akan penuh materi, tapi justru kita lebih banyak berlatih. Membuat saya lebih mudah memahami.”
Fahri mengingatkan untuk terus berlatih: menulis yang baik bukan datang dari bakat, melainkan keterampilan yang terus diasah.
Kelas kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Di luar ruangan, sisa dadar gulung dan risol solo masih tergeletak di meja. Kami pergi membawa sesuatu yang berbeda dari yang kami bawa ketika datang: bukan data baru, bukan argumen baru, tapi cara yang berbeda untuk menyampaikan keduanya.
Selama ini kami mengira berteriak adalah cara paling keras untuk didengar. Tiga hari di Bogor mengajarkan sesuatu yang berlawanan.
Teriak, kami sudah mahir. Berbisik lewat kata, kami baru mulai.




0 Comments
Leave a Reply